Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kalori Boba dan Pengaruh Terhadap Tubuh

Berbicara tentang boba, tidak jauh dari pembahasan tentang bubble. Pasalnya, minuman ini jelas banyak ditambahkan pemanis dan topping yang sarat kalori. Meski begitu, permintaan tidak surut dan merek-merek baru dengan berbagai rasa terus berdatangan. 

Kalori boba

Lalu, bagaimana dengan kalori boba tea

Sejarah Dibalik Kalori Boba

Sebandingkah kenikmatan minuman ini dengan efeknya bagi kesehatan? Banyak kalori dan variasi rasa bubble berasal dari gagasan Liu-Han-Chieh. Pendiri kedai teh Chun Shui Tang di Taichung, Taiwan, pada tahun 80-an. Awalnya, Chieh berinisiatif menyajikan teh dingin, setelah melihat bagaimana kopi disajikan dingin di Jepang. Hingga saat ini bubble tercatat sebagai menu terlaris dan menjadi minuman khas Taiwan. 

Kalori boba tidak bisa dihindari? Tak terbatas seperti namanya, bubble sebenarnya menawarkan berbagai macam topping. Tidak hanya dalam bentuk gelembung atau bola-bola kenyal. Tapi juga agar-agar, puding, keju, lidah buaya, dan banyak variasi lainnya dengan boba kalori.

Bubble atau mutiara sendiri juga menyediakan berbagai varian, mulai dari bening, berwarna, memiliki rasa, dan lain-lain. Mereka semua memiliki tujuan yang sama pada akhirnya. Yaitu memberikan sensasi mengunyah sesuatu sambil menyeruput teh dingin dari gelas plastik. 

Kalori boba dan bahan-bahan buruk lainnya dalam minuman ini. Mengapa dikatakan buruk? Sebab, bubble teh sudah pasti bukan teh biasa. Di setiap gelasnya, minuman ini terdiri dari teh, susu, gula, dan tentunya bubble atau bola tapioka sebagai ciri khasnya. 

Nah, bola tapioka ini sendiri gampang-gampang susah. Karena rasanya juga manis dan diperkaya dengan berbagai rasa, seperti coklat, vanilla, dan masih banyak lagi. Tanpa perlu perhitungan panjang, sudah jelas kalori boba itu tinggi. Namun, berapa banyak?

Ayo Menghitung Kalori Boba 

Kalori boba

Tentu saja, jumlah kalori boba akan sangat bervariasi, tergantung pada bahan dan ukurannya. Namun, dalam gelas biasa 500 ml, kalori bubble tea dengan bola tapioka bisa mencapai sekitar 281 hingga 460 kkal, tergantung pilihan topping dan tambahannya. 

Oke, kalian pasti penasaran kan, kenapa minuman yang terlihat biasa saja bisa mengandung kalori yang fantastis? Penjelasannya, bubble atau mutiara yang menjadi bagian tak terpisahkan dari minuman ini ternyata hanya mengandung karbohidrat tanpa memiliki manfaat mineral dan vitamin. 

Padahal, menurut Health Promotion Board dari Singapura, seperempat cangkir bubble sudah menyumbang lebih dari 100 kalori! Nah, jika dicermati kalori boba, segelas ukuran biasa dengan total kalori 334 kkal, yang sepertiganya hanya berasal dari gelembung. 

Jumlah kalori boba itu setara dengan segelas minuman cola atau semangkuk nasi, lho! Pertama, mari kita bicara tentang lemak trans dalam minuman ini. Lemak trans berasal dari proses pembuatan bubble untuk meningkatkan rasa dan teksturnya. 

Sayangnya, enak di lidah tidak baik untuk tubuh, karena lemak trans meningkatkan kadar kolesterol jahat, atau Low Density Level (LDL), dan mengalahkan kolesterol baik atau High Density Level (HDL). 

Jika itu terjadi, sistem kerja kolesterol yang seharusnya memiliki fungsi penting dalam tubuh menjadi kacau. Beberapa efek negatif yang dapat terjadi akibat peningkatan dan penimbunan lemak trans adalah meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan diabetes melitus tipe 2. 

Jadi, sekarang apakah Anda mengerti kalori boba. Penelitian menunjukkan bahwa segelas bubble sweetness biasa mengandung 34 gram gula, 68% lebih banyak dari ambang batas konsumsi gula harian yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). 

Bayangkan, jumlah gula ini belum termasuk gula dari nasi putih yang Anda makan, dari penambahan kecap manis di hidangan Anda, atau beberapa potong buah untuk pencuci mulut. Tidak heran jika diabetes melitus tipe 2 semakin menjadi ancaman di usia produktif dan menempatkan Indonesia pada posisi ke-6 dunia dengan jumlah penderita diabetes usia 20-79 tahun sekitar 10,3 juta orang. 

Kedengarannya kurang menakutkan dengan kalori boba? Diabetes melitus tipe 2 merupakan “induk” dari penyakit kronis lainnya, seperti serangan jantung, stroke, kebutaan, gagal ginjal, bahkan dapat menyebabkan kelumpuhan dan kematian! Kalori bubble dan obesitas Tidak hanya sampai di situ, asupan kalori tinggi yang dikonsumsi terus menerus dan tanpa disadari akan membawa generasi muda pada risiko penyakit yang nyata, yaitu obesitas. 

Menurut catatan, dalam beberapa dekade terakhir, peningkatan jumlah orang gemuk telah menjadi epidemi yang meningkatkan risiko diabetes mellitus tipe 2, penyakit kardiovaskular, dan beberapa jenis kanker. 

Bahkan, sebuah studi nutrisi mengklasifikasikan bubble sebagai jenis minuman dalam kategori minuman manis (SSB), karena dimaniskan dengan sirup jagung fruktosa tinggi. Ini adalah efek dari teh boba berkalori tinggi. 

Inilah penjelasan tentang kalori boba. Semoga artikel ini bermanfaat.